Social Icons

Pages

Sabtu, 25 Februari 2012

KH. ALI MA’ SHUM

KH. Ali Ma’ shum lahir pada tanggal 15 Maret 1915 di Lasem, kota kecil dala wilayah Rembang - Jawa Tengah. Kota Lasem tidak bisa dipisahkan dari nama Mbah Ma’ shum, ayah dari KH. Ali Ma’ shum sendiri. Ia adalah salah seorang pendiri NU bersama Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri dan yang lainnya.
Ketika KH. Ali Ma’ shum berusia 12 tahun (1927). Ia dikirim ke pesantren Tremas Pacitan Jawa timur untuk belajar kepada KH. Dimyati. Saat itu Tremas memang salah satu pesantren terkenal, yang didirikan oleh KH. Abdul Manan tahun 1830. Ponpes itu sudah banyak mencetak kyai-kyai besar. Salah satunya adalah Syekh Mahfuz al-Tremas yang dikenal sebagai salah seorang pengajar di masjid Al-Haram Mekah, yang telah banyak menulis kitab-kitab dalam bahasa Arab.
KH. Ali Ma’ shum belajar di Tremas selama delapan tahun. Di sana ia banyak menimba ilmu agama dan tergolong santri yang pandai dan rajin. Banyak kitab kuning yang ia kaji dan pelajari, dari mulai kitab Nahwu Shorof, kitab Fikih, Tasawuf, sampai Tafsir dan Hadist.
Selain itu KH. Ali Ma’ shum gemar membaca buku-buku pelajaran lain selain kitab-kitab pesantren, sehingga ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dibandingkan teman-teman santri lainnya.
Kelebihan lain KH. Ali Ma’ shum adalah dalam soal bahasa. Disamping memahami kitab kuning, ia juga pandai dalam bahasa Arab secara aktif maupun pasif. Saking pandainya berbahasa Arab sampai-sampai oleh teman-temannya ia dijuluki “Kamus Bahasa Arab Jalan”
Di Tremas, KH. Ali Ma’ shum memperoleh pendidikan kepemimpinan dengan mengikuti kegiatan di kepanduan. Pada masa itu semangat nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan sedang menggelora.
Di panduan bakat kepemimpinan KH. Ali Ma’ shum diasah. Sebagai santri yang cerdas, maju dan berwibawa, akhirnya ia diangkat sebagai ketua kepanduan di Tremas. Sejak saat itu ia makin dikenal luas.
Kepribadian KH. Ali Ma’ shum
KH. Ali Ma’ shum adalah orang yang bersikap tegas, berani, alim dan penuh kharisma. Tetapi bukan ia galak dan menakutkan. Justru ia orangnya sangat lembut, ramah, suka berjanda dengan siapa pun, termasuk dengan santrinya.
Suatu ketika KH. Ali Ma’ shum berjalan mengelilingi kompleks pesantren. Ia tidak segan-segan melihat kamar santri dan masuk dapur. Dengan nada bersahabat, ia sering mendatangi santrinya yang sedang masak. Tanpa ragu-ragu ia ikut mencicipi masakan santrinya.
KH. Ali Ma’ shum memang orang yang tidak pernah membuat jarak dengan siapa saja. Dimata KH. Ali Ma’ shum semua orang adalah sama, bahwa mereka dan kita semua adalah saudara. Tidak hanya dengan kalangan kyai dan santri saja ia bisa akrab, tetapi dengan tukang becak sekalipun ia merasa dekat dan akrab dengannya.
Sebagai seorang kyai pesantren dan tokoh NU. KH. Ali Ma’ shum juga akrab bergaul dengan orang dari kalangan Muhammadiyah, pejabat pemerintahan dan keluarga keraton Yogyakarta.
Pengabdian dan Perjuangan KH. Ali Ma’ shum
KH. Ali Ma’ shum dikenal sebagai ulama besar yang berpandangan luas. Ia sangat tanggap terhadap persoalan-persoalan umat Islam. Bukan hanya dikalangan warga NU, tetapi juga seluruh umat Islam di Indonesia, bahkan di dunia internasional.
Pandangan-pandangan KH. Ali Ma’ shum tentang ajaran Ahlussunnah Waljamaah dan NU ditulis dalam kitabnya “Hujjah Ahlussunnah Waljamaah”.
Pada kitab ini ia menjelaskan beberapa masalah khilafiyah dan menjadi pedoman akidah dan amaliah warga NU. Seperti masalah tahlil, talqin, tarawih, ziarah, kurban, dan tawassul.
Dalam sebuah pertemuan antar tokoh-tokoh Islam tentang “Ukhuwah Islamiyyah”, KH. Ali Ma’ shum menjelaskan pandangannya tentang Ukhuwah Islamiyyah. Menurutnya, untuk menciptakan ukhuwah, umat Islam harus tetap berpegang pada syariat Islam dan tidak memperuncing masalah khilafiyyah (perbedaan dalam fikih).
Sejak terpilih menjadi Rois ‘Am PBNU menggantikan KH. Bisri Syansuri pada musyawarah Nasional Alim Ulama dan konferensi besar NU di Kaliurang Yogyakarta, kiprah dan pengabdian KH. Ali Ma’ shum untuk NU sangat besar. Kepemimpinan tersebut telah membawa perubahan dan menjadi babakan sejarah baru bagi perjalanan NU tertama ketika Muktamar NU ke 27 di Situbondo pada akhir 1984.
Saat itu KH. Ali Ma’ shum adalah seorang perumus “Khittah NU ke-26”. Meski demikian, KH. Ali Ma’ shum selalu beriskap tawadhu. Menurutnya, apa yang dilakukannya hanyalah sebagai tindak lanjut dari hasil pemikiran dan perjuangan para ulama pendahulunya.
“Kita harus menghormati mereka, karena keutamaan tetap ada di tangan para pendahulu, meskipun kita sebagai pengikut sama berbuat baik.”. katanya sering kali kepada santri, pengikutnya dan dirinya sendiri.
KH. Ali Ma’ shum dipanggil ke hadirat Allah SWT, usai adzan Magrib hari Kamis tanggal 7 Desember 1989, di RSU Sardjito Yogyakarta di usianya yang ke 74 tahun. Esok harinya ribuan umat Islam memberi penghormatan dan menghantarkannya ke peristirahatan terakhir di pemakaman Dongkelan Bantul Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar